Sore itu, dua tahun yang lalu.
Aku ada di atas sebuah bukit. Bukit di belakang rumah yang tak asing lagi bagiku. Penuh dengan batu nisan bertebaran disana-sini namun sama sekali tak menyeramkan. Aku justru merasa nyaman berada disitu. Berlama-lama berbaring sambil memandang langit biru atau hijaunya hamparan sawah dan gemericik sungai jauh di bawah sana. Ah, aku suka bukit ini. Tempat aku bermain layang-layang atau sekedar menghabiskan waktu sepulang sekolah. Tapi sore itu aku tak sendiri. Aku bersamanya, seseorang yang asing, yang kukenal belum genap seminggu. Entah kenapa dia mampu membuatku merasa nyaman.
Sore itu, dua tahun yang lalu.
Aku berdua bersamanya, menceritakan segala hal yang aku tak pernah mampu ungkapkan kepada orang lain. Dia pun bercerita padaku rahasia-rahasia terdalamnya, yang kadang menghentikan kalimatnya untuk beberapa detik, ketika dia sungguh menahan rasa sakit yang terungkit kembali ke permukaan. Tak perlu ada kata, jeda dan keheningan seolah bisa menyatakan kalimat, “Aku peduli padamu”.
Sore itu, dua tahun yang lalu.
Aku sedang bercerita bagaimana dulu aku kerap menyakiti diriku sendiri ketika aku marah, karena darah yang mengalir keluar bisa membawa pergi sesak di hati. Jantungku berhenti berdetak ketika tiba-tiba dia menatapku dalam-dalam sambil berkata, “Berjanjilah takkan lagi menyakiti dirimu sendiri. Aku tak akan membiarkan siapapun atau apapun menyakitimu. Tak akan lagi ada darah mengalir ataupun pergelangan tangan yang tergores. Aku akan jadi penjagamu. I’ll be here. I’ll be waiting here. I’ll be waiting for you here. So if you come here, you’ll find me there.” Aku mengangguk.
Sebuah kamera saku miliknya mengabadikan senyum pertamaku setelah luka hati yang bertahun-tahun aku pendam sendiri, yang terkadang membuatku menangis tanpa sadar di tengah malam, di antara mimpi. Dia berhasil memaksaku tersenyum.
Sore itu, dua tahun yang lalu.
Hari menjelang sore, matahari mulai terbenam. Duduk di atas pagar tembok makam sebuah keluarga kecil, sepasang orang tua dan seorang anak, kami sesaat diam terpaku memandang semburat jingga keemasan yang menawan, sambil merasakan hangatnya sisa-sisa mentari yang tak pernah lelah menyinari bumi. Kemudian aku bercerita padanya tentang warna-warna langit yang indah dan menunjukkan padanya bagian mana yang berwarna ungu, jingga, biru, kelabu.
Kini,
Aku sudah jarang memandangi matahari terbenam dan memperhatikan warna-warna indah yang dimilikinya. Aku sudah jarang menceritakan padanya warna-warna itu. Tapi dia masih menepati janjinya. Tak ada lagi darah yang mengalir percuma dari tubuhku, tak ada lagi tangis yang sia-sia. Mimpi buruk di tengah malam tak lagi semenakutkan dulu, karena ada dia yang menjagaku. He’s there. He’s waiting there. He’s waiting for me there.

Happy second anniversary, my dear prince, my sunshine.
———————————————————————————-
Gambar diambil semena-mena dari internet. Lupa situsnya apa
Update : mau masang poto yang bersangkutan ah sekali2
tapi potonya yang kecil aja ya ![]()


11 Komentar
indah sekali sayaaaaaanggggggggg… a true story, eh? Duh.. congrats to both of you
.: takochan :.
iyah ini true story
makasih say
woowwww…
congrats yaa.. ihiiyyy
aawwwww…so romantic…
selamat ya buat kalian berdua..
kapan kawin?ayo mudik, damai menantimu di sana … welkam tu this paradise…
oowwww… kok ulangtahunnya hampir sama dengan kekasih hati saya ya
selamat ulangtahun untuk princenya ya chris
selamat ya.. jadi terharu
hmmm…
perjuangan yang hebat…
.: risacadel :.
makasih cha. postingan2mu ama lugas kadang dodol tp bikin iri juga
.: cK :.
huhui terimakasihhh..
kawinnya nunggu tante cK dulu.: warmorning :.
hadoh kata2 ituuu..
m.u.d.i.k
masi lamaaaaaaaaa
.: itikkecil :.
hehe bukan dia yg ulangtaun mbak. thanks, anyway
.: monsterikan :.
hehehe.. itu di lap dulu ingusnya..
.: sir arthur moerz :.
wew. hebat dimananya?
huaa..tin!!! aku bacanya sampai terharu..
dan batinku pun tak bisa berhenti bertanya tentang sebuah makam keluarga kecil..
sepasang orangtua dan seorang anak kecil..
milik syapakah makam itu?
mengharukan banget…
semoga berlanjut sampe merit yah…
2 Lacak Balik / Ping Balik
[...] si eneng yang lagi misah-misuh, ibu yang habis jalan-jalan ….anak pramuka sejati… dan yang baru saya datengi kmaren.. , wanita yang barusan protes dan ngakak [...]
[...] sore tak terlupakan [...]