Malam ini, tak ada yang aku rasakan selain hanya kosong. Tak banyak yang kutahu tentang rasa kehilangan. Aku terlalu banyak mengalami kesenangan.

Dan ketika tiba-tiba itu terjadi…

Aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Pertanyaan-pertanyaan dan oengandaian-pengandaian yang memenuhi kepalaku, mencoba memutar waktu untuk tidak melakukan kesalahan. Menyesal. Dan selalu, sesal muncul belakangan. Tapi aku tetap tak bisa menerima ini…

Entah berapa purnama kulalui dengannya. Aku tak menghitung. Hal yang terbaik dia berikan, membuatku merasa hidup dimanapun berada. Melewati hembusan angin akhir musim gugur, dinginnya hujan musim dingin, dan hangat mentari awal musim semi. Telah terbiasa memilikinya. Telah terbiasa akan kehadirannya.

Ketika tiba-tiba ia diambil dalam hidupku, rasanya seperti marah. Mengapa aku? Mengapa sekarang? Mengapa tidak menunggu saat yang tepat? Aku marah. Kesal. Mengutuki kebodohan diri sendiri. Andai aku tak melakukan itu… Andai aku melakukan hal yang sebaiknya kulakukan…

Ah sudahlah. Toh ia tak akan kembali. Ia tetap saja hilang entah kemana. Akal sehat membawaku pada perasaan bersyukur yang teramat dalam. Mungkin aku diingatkan untuk tidak terlalu bergantung padanya. Untuk tidak terlalu memujanya. Ya, bisa dikatakan aku memujanya. Hanya ia yang mampu membawaku terbang dalam sejuta mimpi dan angan-angan, menghangatkan hati ketika membeku, menghentikan air mata yang mengalir, atau meredam amarah ketika lepas kendali. Ia mengambil alih kendali emosiku.

Ya, memang aku harus bersyukur atas kehilangan ini. Setidaknya aku tahu, bahwa tak semua hal bisa kumiliki. Ada sesuatu yang (mungkin) harus kukorbankan ketika  segala nasehat dan peringatan tak kugubris, ketika nurani kumatikan dengan sengaja.

Aku berterimakasih, Tuhan. Tak tahu apa yang akan terjadi, apakah Kau akan mengijinkan hal yang sama masuk dalam kehidupanku lagi, atau ini akan menjadi akhir. Atau Engkau punya rencana lain. Yah, hanya Kau yang tahu, sang Sutradara Hidup yang Maha Kreatif.

11 Komentar

  1. Kadang Tuhan membuat keputusan yang menyisakan tanda tanya besar. Kadang Ia tidak langsung menjawabnya.
    Tapi Ia selalu memberikan jawaban, jika bukan sekarang maka itu berarti nanti.

    :)

  2. OOT : fotonya keren :D

  3. Katanya sih, kalo ikhlas sama hal yang hilang, akan diganti dengan yang lebih baik, tapi ya.. gak mudah juga bisa ikhlas ya jeng :neutral:

    ngeniweiiii, wis di-miskol, gak aktip pun :mrgreen:

  4. ini soal yang waktu itu? :|

    ah…sayapun sedang belajar kehilangan… :|

    *peluks chriz*

  5. .: yoga :.
    Setuju Bu. Yah teori emang mudah tapi prakteknya itu… Entahlah. Masih menyusun kepingan yang hancur.

    .: itikkecil :.
    emang. Bagus kan? kan? kan? Hohoho…

    .: takochan :.
    Sangat gak mudah untuk bisa ikhlas Des. Yang itu, akhirnya bisa dihubungi kok. :)

    .: cK :.
    (Untungnya) bukan soal yang satu itu Chik. Kali ini tentang yang lain. Ngeniwe, makasih ya waktu itu. Kamu jg yg semangat yaaaa..

    *peluk2 cK*

  6. aku tau aku tau, kok aku jadi tau macem2 ya. bisa buat black mailing

  7. .: febrian :.
    Iya ya feb? Kok kamu jadi tau macem2. :roll:

  8. ah kehilangan…??
    sama… :s

  9. .: grace :.
    *peluk2 grace*
    sabar yaaaa…

  10. iya Bu,saya juga belajar dari kehilangan,,,memang tidak semua yg ada di muka bumi ini bisa kita miliki,,,hanya Allah yg tau untuk kita ,apa itu yg terbaik,,, :) :)

  11. kerika kita kehilangan, kita memang merasa marah dan begiru bengis dengan keadaan yang tengah kita lalui. Namun setiap kehilangan akan menambah ketegaran dalam hati seseorang. Temukan hikmah dari setiap yang terjadi, ambil yang baiknya dan tinggalkan yang jelek-jeleknya.

    SemOga BaHAgiA selalU menYerTAi mu.

    amiN…


Tulis sebuah Komentar

*
*